Diskominfo Ikuti Webinar Sosialisasi Program Supplementasi TTD

Diskominfo Ikuti Webinar Sosialisasi Program Supplementasi TTD
Diskominfo Ikuti Webinar Sosialisasi Program Supplementasi TTD

Kota Serang – Dinas Komunikasi, Informatika Statistik dan Persandian Provinsi Banten, mengikuti Lokalkarya Advokasi Sosialisasi Kebijakan dan Pedoman Nasional Pelaksanaan Program Supplementasi TTD bagi Remaja Puteri selama Pandemi Covid-19 Provinsi Banten melalui virtual meeting/zoom meeting, bertempat di Lt.1 ruang Sekretariat, KP3B Kecamatan Curug – Kota Serang, Selasa (20/10/2020).


Acara tersebut dibuka oleh Dr. dr. Hj. Ati (Kepala Dinas Kesehatan Banten) Sambutan dari Dr. Sri (Direktur Nutrition Internasional Indonesia) menghadirkan narasumber antara lain : 1) Prof. dr. Endang, MPH, Dr.PH (Guru Besar FKM UI), 2). Tiara, SKM., MKM, RD (Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Banten), 3) M. Takwim, S.Pd., SE, M.Ak (Sekretaris Dindikbud Banten), 4). Ahmad Drajat, S.Pd, SKM, S.Kep., MKM.

Sebagai informasi, kegiatan tersebut terselenggara dalam rangka menindaklanjuti undangan dari Nutrision Internasional (NI) untuk mendukung Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan program pencegahan anemia pada remaja putri yang berfokus pada pendidikan gizi dan Supplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri di SMP dan SMA sederajat di 4 provinsi termasuk Provinsi Banten.

Dalam kegiatan tersebut dibahas tentang anemia, pengertian anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentarasi hemoglobin (Hb) lebih rendah dari seharusnya, yaitu Hb 13g/dl pada laki-laki, Hb 12 g/dl pada perempuan dewasa. Hb merupakan pembawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh termasuk otak dan otot, bila Hb rendah oksigen yang dibawa kurang sehingga jaringan kekurangan oksigen menimbulkan gejala 5 L (Letih, Lemah, Lesu, Lelah dan Lalai), pusing (berputar-putar), nafas pendek. Adapun bahaya anemia khususnya bagi remaja putri antara lain merasa cepat lelah dan lemah sehingga malas dan lamban melakukan aktivitas, kurang produktif, ketangkasan berpikir menurun dan menyebabkan turunya prestasi di sekolah, turunya kekebalan tubuh sehingga sering menderita penyakit infeksi.

Disampaikan secara lengkap dalam webinar tersebut, mengapa remaja putri mudah mengalami anemia, karena remaja putri yang sudah mengalami haid akan kehilangan darah setiap bulan sehingga membutuhkan zat besi lebih banyak disbanding remaja putra, sebagian remaja putri (rematri) kadang-kadang mengalami gangguan haid seperti haid yang lebih lama dari biasanya atau lebih banyak dari biasanya. Banyak rematri melakukan diet yang keliru yang bertujuan untuk menurunkan berat badan, diantaranya mengurangi asupan protein hewani, padahal protein hewani dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin darah. Adapun cara mencegah anemia yaitu mengonsumsi makanan yang meningkatakan absorbsi zat besi seperti jeruk, vitamin C, makanan hewani (daging, unggas, ikan).

Sedangkan yang dimaksud dengan TTD (Tablet Tambah Darah) yaitu suplemen yang berisi zat besi dan asam folat yang berfungsi untuk membantu membentuk hemoglobin darah. Adapun dosis meminum TTD yaitu satu tablet TTD setiap minggu. Adapun gejala yang timbul saat mengonsumsi TTD yaitu perut perih, mual, sembelit dan kotoran berwarna hitam namun gejala tersebut tidak berbahaya, untuk mengurangi gejala tersebut TTD diminum kira-kira satu jam setelah makan malam sebelum tidur agar efek samping tidak terasa. Adapun regulasi terkait TTD yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 88 Tahun 2014 tentang Tablet Tambah Darah bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil.

Adapun pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri sebelum Covid-19 di Provinsi Banten antara lain perencanaan, implementasi, pencatatan dan pelaporan, serta minum bersama TTD secara serentak pada tanggal 3 Maret 2020. Pemberian TTD ini merupakan bagian dari aksi BAGAS (Banten Cegah Stunting).

Peserta webinar tersebut, antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Petugas Penanggung jawab program TTD rematri Puskesmas se-Provinsi Banten, KCD Dindik Kab/Kota, Kepala Sekolah Tingkat SMA tiap Kab/Kota, Kementerian Agama di wilayah Kab/Kota, Kepala Sekolah/guru pembina UKS tingkat Aliyah, Tim Pembina UKS Kab/Kota dan lintas sektor terkait tingkat provinsi (Biro Kesra Setda Banten, Dindikbud Banten, Kemenag Banten, Tim Pembina UKS/M Banten, Diskominfo Banten, Organisasi Pemerhati Kesehatan Remaja (MSF).