BANTEN MENUJU KEDEWASAAN*)


MEMASUKI usia tiga belas tahun bagi Provinsi Banten, jika dianalogikan dengan siklus usia manusia maka usia ini sedang masuk masa remaja yang sering disebut masa puber. Perkembangan dan perubahan fisik mulai terjadi dan secara naluriah rasa ingin tahu terhadap diri dan orang lain juga semakin tinggi.

Masa ini juga ditandai dengan aktivitas ”trial – error” beriringan dengan naluriah dorongan rasa ingin tahunya. Ekspresinya berupa perilaku yang menyulitkan orang lain. Pada masa secara jasmaniah terjadi perubahan berkaitan dengan proses kematangan psikososial yang berhubungan dengan berfungsinya seseorang dalam lingkungan sosialnya.

Lembaga kesehatan di bawah PBB, WHO mendefinisikan remaja sebagai persiapan untuk memasuki usia dewasa dengan segala perubahan-perubahannya seperti perubahan fisik, hubungan sosial, bertambahnya kemampuan dan ketrampilan, pembentukan identitas diri.

Pada akhir masa remaja diharapkan kedewasaan sudah tercapai, sudah mampu mencari nafkah sendiri dan membentuk keluarga. Tulisan ini dimaksudkan menelaah berbagai tantangan dan mengembangkan potensi menjadi hal konkrit untuk memperbaiki berbagai kelemahan dan memantapkan laju kekuatan yang ada di Banten.

 

Tantangan

Dalam sistem ekonomi terbuka setiap daerah ataupun negara tidak bisa melepaskan diri dari saling ketergantungan sumber daya produksi sebagai basis penciptaan nilai tambah dan pembukaan lapangan kerja. Antar daerah atau antar negara tentu menginginkan bahwa sumber daya tersebut dapat menjadikan daerah atau negaranya sebagai homebase proses penciptaan nilai tambah.

Persaingan antar daerah dan antar negara terjadi, yang masing-masing dapat menggunakan keuanggulan komparatif yang memang menjadiendowment (anugerah) dari Allah SWT. Namun tak jarang daerah atau negara yang tidak memiliki anugerah tadi tetap dapat memiliki keuanggulan karena keunggulan sumber daya manusianya memiliki pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan berbagai metode yang dibutuhkan untuk membantu mengolah bahan primer menjadi barang atau jasa dengan nilai tambah tinggi.

Inilah yang sering disebut sebagai eknomi berbasis pengetahuan yang sudah kita rasakan, bahwa tanpa sumber daya produksi primerpun negara Finlandia (Nokia) dan Korea Selatan (Samsung) selama 24 jam sehari menjadi kebutuhan kegiatan kita sehari-hari. Saya sengaja menyampaikan hal ini untuk membangun optimisme masa remaja Banten yang tengah menuju masa dewasa. Berbagai kalangan yang bersikap kritis tentulah harus diakomodir sebagai bagian dari stakeholders. Namun demikian kita harus tetap memberikan pandangan yang konstruktif agar rakyat Banten dapat menikmati suasana yang kondusif.

Mengutip data dari The Global Competitiveness Report 2012-2013, daya saing produk Indonesia masih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kondisi ini harus dicarikan jalan keluarnya, dari tingkat daerah sampai tingkat nasional melalui berbagai kebijakan yang konkrit dan berksinambanguan sebelum tahun 2015, tepatnya Masyarakat Ekonomi Asean (AES) akan dimulai.

AES memaksa anggotanya untuk berani berubah mentranformasi ekonominya agar melaju lebih cepat dibanding negara lainnya. Dalam konteks ini Banten harus memberikan kontribusi yang besar jika ingin memiliki nilai lebih untuk meningkatkan daya saing antar daerah.

Tantangan lain adalah masalah ketenagakerjaan dengan tingkat pengangguran sekitar 15 persen yang melebihi angka pengangguran nasional sekitar 5,8 persen. Sudah saatnya hal ini perlu tindakan konkrit bukan dengan mencari alasan pembenaran. Perbaikan iklim investasi secara cerdas perlu dimainkan oleh satuan kerja terkait.

Promosi yang gencar harus diimbangi dengan kesiapan berbagai studi kelayakan untuk menarik investasi pada sektor transportasi, TPT, telematika dan baja. Ketekaitan hulu-hilir perlu dikaji secara mendalam sehingga seluruh kegiatan turunan dari output hulu dapat diproses oleh pengusaha UKM di Banten. Sehingga tidak terjadi lagi perusahaan seperti Posco-Krakatau Steel harus membawa perusahaan Korea Selatan yang berjumlah 32 buah untuk supporting kegiatan produksinya.

Jika saja perusahaan di Banten dapat diinisiasi oleh pemerintah daerah ketika baru diajukan perizinan maka peran keterlibatan perusahaan sebagai pendukung kegiatan Posco-Krakatau Steel akan mudahmenghitung berapa tenaga kerja yang akan diserap melalui kegiatansupporting industry tadi.

Berdasarkan data BPS secara nasional tingkat pengangguran per Pebruari 2013 adalah 7,17 juta orang (5,92 persen) dari jumlah angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 121,2 juta orang. Jika dikatakan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia semakin membaik, namun upaya untuk membuka lapangan kerja baru dan mengurangi angka penganguran perlu secara serius terus dilakukan secara intensif dengan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) agar memiliki kompetensi dan daya saing sebagai amat Kepres No. 8/2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

 

Potensi ke Realisasi

Menarik untuk diikuti adalah kajian dari McKinsey, suatu lembaga konsultatif yang terkenal yang dengan cukup jelas menyerukan agar Indonesia bergerak dari posisi potensial ke posisi yang nyata, yang realistis. Unleashing Indonesia’s Potential adalah seruan McKinsey secara singkat.

Suatu seruan yang masuk akal, sudah wakunya Indonesia dan Banten menggerakan segala dayanya. Kekuatannya yang semata-mata masih bercorak potensial menjadi kekuatan yang solid, yang dapat membawakan Provinsi Banten menjadi provinsi besar dan terpandang secara nasional dan di dunia internasional. Sasaran demikian memang dapat dicapai.

Perkiraan demikian antara lainnya didasarkan atas pola dan seluk-beluk kemajuan Banten. Pola yang bersifat gerak cepat. Suatu pola yang bercorak stabil dan meluas. Walaupun tergoda oleh krisis-krisis keuangan dunia yang dahsyat. Suatu pola yang tidak bersifat volatil (bergejolak). Seperti halnya dengan negara-negara emerging lainnya.

Dalam masalah hutang, kecepatan laju pertumbuhan, kemantapan stabilitas makro serta mengelola ekonomi (overall economic management), Indonesia dan Banten nampaknya harus terus berupaya mencapai kemajuan yang cukup solid dan berkesimbungan.

Belum lagi realitanya telah tumbuh dengan sangat cepat kelas menengah yang sangat potensial yang tidak sampai disadari oleh masyarakat kita sendiri. Yang umumnya terdiri dari kaum muda yang terdidik dengan pola konsumsi yang tinggi yakni US$2-20/hari yang sebaliknya dapat memicu laju kecepatan ekonomi Banten dan Indonesia. Dan jika kita cermati komposisi penduduk Banten pada Tabel 1 di bawah ini, sudah seharusnyawisdom, kecermatan dan kecerdasan pembuat kebijakan harus mampu memanfaatkannya.

Tabel 1 berikut memperlihatkan selama 50 tahun jumlah penduduk Banten naik hampir lima kali lipat jika dihitung sejak tahun 1961 berjumlah 2.258.574 orang menjadi 10.632.166 pada tahun 2010. Sedangkan usia produktif yaitu penduduk berumur 15-64 tahun terus mendominasi berkisar 60-67 persen dibandingkan penduduk usia 0-14 tahun dan lebih dari 64 tahun.

 

Tabel 1Komposisi Penduduk Provinsi Banten Berdasarkan Umur

 Tabel 1 Komposisi Penduduk Provinsi Banten Berdasarkan Umur

Sumber: BPS Banten, 2012

 

Strategi Kebijakan

Adigium klasik Belanda mengatakan bahwa apabila perencanaan dilakukan dengan baik maka separo pekerjaaan telah selesai. Tercapainya sasaran memerlukan perhatian dan keseriusan perencanaan dengan meninggalkan kepentingan sektoral tetapi dengan fokus pada rencana jangka menengah dan panjang yang telah menjadi dokumen resmi Pemerintah Provinsi Banten. Hal-hal penting dan perlu orientasi yang kuat dari semua sektor akan pentingnya:

(1) Produktivitas. Keluhan utama investor di Banten adalah tuntutan upah yang tinggi namun belum disertai dengan produktivitas yang sesuai. Indikasinya mudah jika beberapa perusahaan memindahkan basis produksi ke daerah lain maka merupakan tanda bahwa hal ini ada masalah Sehingga daya saing Banten perlu ditingkatkan dalam berbagai bidang termasuk perijinan, infrastruktur, energi, dalam bidang services, transportasi dan sebagainya. Menurut perhitungan McKinsey untuk tingkat Indonesia masih harus mencapai perbaikan sebesar 60% dari taraf perkembangan dalam kurun waktu 2010-2020;

Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan