MENITI JALAN MEMBANGUN BANTEN


Oleh: Rano Karno*)

Pada Juni 1596 tiga kapal VOC buang sauh di pesisir utara Banten. Ada 89 awak kapal turut serta di dalamnya, salah satunya Cornelis de Houtman, pemimpin ekspedisi dari rombongan dagang Belanda saat itu. Tugas mereka awalnya satu mencari negeri penghasil rempah untuk diajak berdagang. De Houtman seorang makelar yang ingin membeli murah rempah dan menjualnya di daratan Eropa.

Pada saat De Houtman menginjakkan kakinya di tanah Banten, Banten merupakan bandar perdagangan yang sibuk di bawah kekuasaan Kesultanan Banten. Bahkan arkeolog Hasan Muarif Ambary dan Claude Guilot, arkeolog Perancis, dalam buku mereka The Sultanate of Buanten, membandingkan kesibukan Paris dengan Banten yang saat itu berpenduduk lebih banyak ketimbang ibukota Perancis tersebut.

Kekuasaan Kesultanan Banten merentang hingga ke Sumatera Selatan menguasai sektor yang diincar bangsa Eropa seperti rempah-rempah, mulai lada sampai cengkeh. Bangsa mana yang tak tergiur pada Banten, sebuah negeri yang bak tanah harapan menjanjikan kemakmuran bagi siapa saja yang berhasil merengkuhnya.

Pada zaman yang sama, Kesultanan Banten telah memiliki dua duta besar, Ngabei Naya Wipraya dan Ngabey Jaya Sedana yang ditugaskan ke Inggris untuk menemui raja Charles II. Jamuan penerimaan dua duta besar tersebut di Istana Windsor menunjukan pengakuan Kerajaan Inggris terhadap kekuasaan Kesultanan Banten.

Apabila hari ini kita mengunjungi situs Kesultanan Banten, pun masih terasa spirit kemegahan dan kejayaan Banten di masa lalu. Di situs itu juga kita bisa saksikan bagaimana kekuasaan Kesultanan Banten mengayomi seluruh rakyat Banten, tanpa terkecuali. Masih tampak klenteng berdiri tak jauh dari bangunan Mesjid Agung Banten, serta jejak-jejak dari masa lalu yang menggambarkan keragaman rakyat Banten.

Namun semua luluh lantak saat kolonialisme Belanda yang diawali kedatangan Cornelis de Houtman melancarkan siasat liciknya menguasai Banten. Selama ratusan tahun berikutnya, Banten terpuruk di bawah cengkeraman imperialisme dan tak memberi sedikit celah bagi Banten untuk bangkit kembali.

Kini ratusan tahun setelah kejayaan Banten tumpas, sebuah pertanyaan kita ajukan, apakah mungkin membangun kembali peradaban Banten yang sesuai dengan tantangan zaman di masa kini demi kemaslahatan bersama rakyat Banten?


 

LIMA LANGKAH UNTUK BANTEN HEBAT

Rakyat Banten sebagai bagian dari keseluruhan rakyat Indonesia sedang memasuki sebuah zaman yang berubah. Suatu zaman di mana aspirasi rakyat banyak menjadi rujukan bagi jalannya pemerintahan, zaman yang juga menghendaki negara dijalankan di atas prinsi-prinsip demokrasi yang menjunjung tinggi azas keadilan, keterbukaan dan kesetaraan.

Dalam rangka mewujudkan kembali peradaban Banten, ada lima hal yang mesti dilakukan. Pertama, membangun pemerintahan yang efektif, efisien dan bersih. Untuk tujuan itu, Provinsi Banten telah memantapkan itikad untuk menjadi provinsi bebas korupsi. Wujud konkret dari ikhtiar tersebut adalah dengan mendirikan Pusat Pengendali Gratifikasi (PPG) sebagai bagian dari program KPK menjadikan Banten sebagai provinsi percontohan pembangunan pro rakyat yang bebas korupsi.

Dalam rangka persiapan pendirian PPG, bersama KPK, Provinsi Banten telah menyelenggarakan lokakarya dan training of trainer (TOT) atau pelatihan untuk para instruktur bagi para pejabat di lingkungan Pemerintahan Provinsi Banten.

Pada era yang baru ini pula, pemerintahan takkan bisa berjalan sendiri tanpa peran aktif seluruh masyarakat pada lintas sektoral. Partisipasi adalah kata kuncinya. Sistem integritas daerah sedang di bangun, melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai LSM antikorupsi, organisasi kemahasiswaan, organisasi profesi, jurnalis, pegiat kebudayaan dan banyak lagi.

Kedua, mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Banten untuk menciptakan kegiatan ekonomi masyarakat lebih dinamis dan efisien. Untuk memulai upaya itu secepatnya sejak pertengahan Agustus lalu, sejumlah ruas jalan telah diresmikan pembangunannya. Modernisasi dan revitalisasi stasiun Maja. Sebagai kawasan penyangga ibukota Jakarta, juga sedang dalam proses pengerjaan berbarengan dengan realisasi gagasan jalur rel ganda yang menghubungkan Jakarta-Maja.

Untuk menyesuaikan pembangunan berbagai jalur transportasi pembuka akses ke Banten, sebuah bandar udara akan di bangun di wilayah selatan Banten. Perlu diketahui pula atas usulan saya kepada Pemerintah Pusat, kini nama bandar udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta menjadi bandar udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Perbaikan di bidang infrastruktur juga untuk menunjang Banten sebagai tujuan wisata alam dan sejarah. Dengan jalan ini diharapkan memunculkan efek ganda (multiplier effect) bagi kegiatan ekonomi masyarakat di Banten tentu dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan dan kebudayaan.

Ketiga, pembangunan karakter manusia melalui pendidikan yang berbasis kompetensi, baik dalam ranah etik, pengetahuan dan keterampilan. Telah sejak lama Banten dikenal luas sebagai lumbung manusia-manusia unggul yang banyak berperan tak hanya di tingkat nasional melainkan pula di tataran internasional.

Sederet nama mulai Hussein Djajadiningrat (doktor sastra pertama dari Indonesia lulusan Universiteit Leiden, kelahiran Serang), Maria Ulfah (Sarjana hukum perempuan pertama lulusan Universiteit Leiden sekaligus menteri perempuan pertama di Republik Indonesia kelahiran Serang), Bing Slamet (seniman serba bisa kelahiran Cilegon), S.Tahsin Sandjadirdja (tokoh pers nasional kelahiran Pandeglang), Misbach Yusa Biran (sutradara dan penulis scenario film kenamaan, kelahiran Rangkasbitung) dan banyak lainnya pernah mewarnai kanvas sejarah di Republik ini.

Oleh karena itu pendidikan seyogyanya menjadi alat mencapai masyarakat yang maju. Adalah kewajiban negara menyediakan pendidikan berkualitas yang terjangkau oleh semua rakyat. Untuk memulainya, saya atas nama Pemerintah Provinsi Banten, baru-baru ini memulai sebuah usaha memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi, anak dari seorang pengayuh becak dan buruh pabrik yang diterima di perguruan tinggi negeri. Ke depan kerja mulia ini akan dilembagakan melibatkan semua pihak yang peduli pada kualitas manusia Banten.

Selain itu, penting mengajarkan pengetahuan sejarah dan kebudayaan Banten kepada seluruh siswa di wilayah Provinsi Banten untuk mengenal jati diri sebagai orang Banten. Sehingga spirit kebantenan akab menjadi pendorong kemajuan masyarakat Banten di era globalisasi ini.

Keempat, menumbuhkan usaha di bidang industri kreatif. Rencana ini senafas dengan kehendak Pemerintah Pusat menjadikan sektor industri kreatif sebagai andalan Indonesia di tingkat internasional. Korea Selatan berhasil menjual budaya k-pop nya ke seantero dunia, sementara Jepang dengan animasinya. Bukan hal mustahil jika kelak tas buatan Lebak, batik kreasi Banten atau desain animasi buatan anak-anak Tangerang bisa menembus pasaran internasional. Tak hanya membawa nama Banten tapi juga mengharumkan nama Indonesia.

Kelima, dengan panjang pantai hampir 600 kilometer dan aspek geopolitik serta kegeostrategisannya, Banten memiliki modal kuat untuk menjadi pusat kawasan maritim. Pelabuhan Bojonegara diharapkan akan menjadi pelabuhan petikemas penting dalam jalur perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

Kejayaan maritim Banten bukan sekedar rencana masa depan, tapi kisah nyata yang pernah terjadi pada abad ke-16 dan ke-17 yang Banten saat itu dikenal luas sebagai bandar perdagangan kerajaan maritim nusantara. Cerita sukses itu perlu diulang kembali.

Ikhtiar membangun lagi peradaban Banten tentu bukan hal yang mustahil, tapi juga bukan hal yang mudah bila tanpa partisipasi seluruh warga Banten. Kejayaan Banten sebagai pusat peradaban di nusantara harus dibangkitkan lagi mulai hari ini, sebagai bagian tugas mulia dan kehendak sejarah demi masa depan rakyat Banten yang makmur, beradab dan berkeadilan. Insya Allah.

*) penulis adalah Plt.Gubernur Provinsi Banten


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan