Buka TTG Banten 2018, Wagub Tertarik Teknologi Pengolahan Sampah

Buka TTG Banten 2018, Wagub Tertarik Teknologi Pengolahan Sampah

Kota Serang - Wakil Gubernur Banten H. Andika Hazrumy, S.Sos., M.AP., tampak sangat tertarik dengan teknologi pengolahan sampah dengan memanfaatkan belatung yang dikembangkan oleh siswa-siswi SMP Permata Insani Islamic School Tangerang. Ketertarikan Wagub terlihat ketika menghabiskan waktu relatif lama saat meninjau stand di acara Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Provinsi Banten XIV tahun 2018, di Alun-alun Barat Kota Serang, Senin (10/09/2018).


Di stand tersebut, Wagub menggali lebih banyak tentang teknologi pengolahan sampah dengan belatung itu. Wagub kemudian mengetahui bahwa penemuan tersebut dilatar belakangi oleh persoalan sampah baik organik maupun non organik yang kerap menumpuk di sekolah mereka selama ini.

“Alhamdulillah Pak, sekarang sampah di sekolah kami sudah bisa kita olah menjadi kompos yang bermanfaat untuk pertanian,” kata siswi SMP Permata Insani Islamic School Tangerang yang bertugas di stand tersebut kepada Wagub.

Selanjutnya, Wagub juga tampak sangat tertarik dengan penemuan siswa sekolah di Kota Tangerang yang menemukan aplikasi belajar matematika di android yang diberi nama A Vivid New Vision.

“Intinya saya secara pribadi maupun sebagai kepala daerah sangat mendukung kegiatan-kegiatan riset seperti ini yang menemukan teknologi tepat guna, apalagi ini kan dilakukannya oleh anak-anak muda,” kata Wagub.

Terkait dukungannya itu, Wagub sebelumnya dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Provinsi Banten, memberikan apresiasi atas terselenggarakannya Gelar Teknologi Tepat Guna. Menurut Wagub, teknologi tepat guna adalah sebuah gerakan ideologis untuk menerapkan aplikasi teknologi bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.

Wagub melanjutkan, teknologi tepat guna umumnya dikenal sebagai pilihan teknologi beserta aplikasinya yang mempunyai karakteristik terdesentralisasi, berskala relatif kecil, padat karya, hemat energi, dan terkait erat dengan kondisi lokal.

“Ini merupakan awal untuk mengubah mindset/pola pikir masyarakat untuk memanfaatkan atau menciptakan teknologi tepat guna dalam menunjang proses pembangunan,” kata Wagub

Teknologi tepat guna, lanjut Wagub, harus menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif seminimal mungkin dibandingkan dengan teknologi mainstream (arus utama), yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.

Lebih jauh Wagub juga berpesan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota agar terus berinovasi mengedepankan teknologi tepat guna berbasis pembangunan pedesaan. 

Menurutnya, teknologi tepat guna di desa harus diprioritaskan menuju industrialisasi perdesaan yang merupakan konsep pengelolaan sumber daya di wilayah perdesaan dengan mengedepankan prinsip industri berbasis budaya, peningkatan peranan strategis industri kecil, industri berbasis modal sosial, agro-industri, bio-industri, termasuk pemanfaatan teknologi informasi bagi masyarakat desa sebagai instrumen dalam rantai pasok di era ekonomi digital.

Menurut Wagub, aplikasi teknologi tepat guna membutuhkan suatu kawasan terpadu untuk menerapkan berbagai jenis teknologi yang telah dikaji oleh berbagai lembaga baik perguruan tinggi, lembaga riset pemerintah dan swasta untuk dapat diterapkan dalam skala ekonomi yang berfungsi sebagai pelatihan dan pusat transfer teknologi ke masyarakat luas.

“Karena itu, saya berharap di setiap kabupaten/kota terdapat techno park sebagai suatu solusi teknis pengembangan industri berbasis masyarakat yang sesungguhnya merupakan perpaduan yang harmonis penerapan teknologi dengan sumber daya alam dengan berbasis kebutuhan komunitas untuk peningkatan value produk industri kecil dan menengah,” paparnya.

Techno park tersebut, kata Wagub, berfungsi sebagai center of excellent yang mampu menjadi disseminator teknologi dan sekaligus sebagai motor penggerak kemajuan industri yang berbasis teknologi sesuai kebutuhan dan keunggulan spesifik di masing-masing daerah. Techno park, lanjutya, dapat menjadi one-stop interface antara industri dan perguruan tinggi.

“Techno park merupakan sarana alih teknologi dan proses komersialisasi hasil-hasil penelitian dari akademisi,” imbuhnya.